05/06/2026 | Press release | Distributed by Public on 05/06/2026 20:24
Vatikan, Negara Kota Vatikan - Indonesia dan Takhta Suci sepakat untuk memperkuat kerja sama di bidang pendidikan melalui inisiatif kolaborasi antara Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) dan Dikasteri Dialog Antaragama Takhta Suci. Kesepakatan ini dicapai dalam pertemuan yang berlangsung pada 5 Mei 2026 di kantor Dikasteri Vatikan. UMY akan menjadi jembatan komunikasi antara PP Muhammadiyah dan Dikasteri Dialog Antaragama untuk menyusun Nota Kesepahaman di bidang pendidikan antara kedua belah pihak.
Delegasi UMY dipimpin oleh Rektor Prof. Dr. Achmad Nurmandi, M.Sc., didampingi oleh Wakil Rektor Prof. Dr. Zuly Qodir, M.Ag., Ketua MPKSDI PP Muhammadiyah Dr. Bachtiar Dwi Kurniawan, Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah Velandani Prakoso, serta Duta Besar RI untuk Takhta Suci Michael Trias Kuncahyono. Kunjungan tersebut diterima langsung oleh Prefek Dikasteri Dialog Antaragama Takhta Suci, Kardinal George Jacob Koovakad, bersama Pastor Markus Solo Kewuta, SVD. "Kunjungan ini memberikan harapan yang menunjukkan penerimaan terhadap keberagaman dan keterbukaan terhadap kolaborasi antar agama," ucap Kardinal Koovakad. Ia juga menekankan pentingnya akses pendidikan yang setara bagi perempuan serta kaum miskin dan terpinggirkan. "Pendidikan merupakan alat utama untuk mencerahkan kaum muda, mempromosikan martabat manusia, dan mencegah ekstremisme," tegasnya.
Pastor Markus Solo Kewuta menjelaskan bahwa Takhta Suci memiliki tradisi panjang kerja sama bilateral dengan berbagai komunitas agama di dunia. "Takhta Suci Vatikan memiliki banyak tradisi kerja sama bilateral dengan berbagai negara dan dengan komunitas agama," ungkapnya. Terkait hubungan dengan Indonesia, kerja sama ini dinilai sebagai langkah nyata dalam merawat nilai-nilai Deklarasi Istiqlal yang ditandatangani oleh almarhum Paus Fransiskus dan Imam Besar Masjid Istiqlal pada 2024. "Kita perlu mengingat kembali Deklarasi Istiqlal tersebut melalui kegiatan kerja sama," ucap Duta Besar Trias Kuncahyono, yang dibenarkan oleh Kardinal Koovakad dengan menegaskan bahwa nilai-nilai yang ditinggalkan Paus Fransiskus harus terus diperdengarkan kepada publik.
Rektor UMY, Prof. Achmad Nurmandi, menjelaskan bahwa Muhammadiyah saat ini memiliki 164 universitas di Indonesia yang mengedepankan inklusivitas. Universitas Muhammadiyah mencatat bahwa mahasiswa mereka berasal dari berbagai latar belakang agama, bahkan di Universitas Muhammadiyah Kupang, 80 persen mahasiswanya beragama Katolik. Di sisi lain, Takhta Suci memiliki sejumlah Universitas Kepausan yang bereputasi internasional, seperti Universitas Gregoriana dan Universitas Lateran, yang dapat menjadi mitra kolaborasi.
KBRI Takhta Suci akan mengkoordinasikan pihak Muhammadiyah, Dikasteri Dialog Antaragama, dan Kementerian Agama RI untuk membahas implementasi lebih mendalam. "Setelah penandatanganan Nota Kesepahaman, kita dapat mengatur mekanisme pertemuan secara reguler," ucap Pastor Markus. Pertemuan tersebut nantinya akan menentukan tema pembahasan spesifik sesuai keahlian akademisi kedua pihak, seperti kecerdasan artifisial, hak asasi manusia, perdagangan manusia, dan perubahan iklim. "Kita akan berpegang teguh pada nilai-nilai di dalam Deklarasi Istiqlal, khususnya dalam mengajukan perdamaian," tutup Pastor Markus.
Sumber: Kedutaan Besar Republik Indonesia untuk Takhta Suci Vatikan