04/04/2026 | Press release | Distributed by Public on 04/05/2026 19:22
Johor Bahru, Malaysia - Pada Rabu (1/4), Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Johor Bahru berkolaborasi dengan Kantor Perwakilan Bank Indonesia Singapore menggelar forum strategis bertajuk "Leveraging the Benefits of Local Currency Transactions (LCT) Indonesia-Malaysia to Support Bilateral Economic Growth" di Novotel Hotel, Johor Bahru.Forum ini bertujuan membahas berbagai hambatan yang disebabkan oleh dinamika politik dan ekonomi global.
Seiring meningkatnya ketidakpastian geopolitik dan kerentanan ekonomi dunia, ketergantungan pada mata uang pihak ketiga seperti dolar AS semakin dipandang tidak efisien dan berisiko. Fluktuasi nilai tukar, biaya konversi berlapis, serta tekanan eksternal mendorong perlunya alternatif yang lebih stabil dan berdaulat. Dalam konteks ini, penggunaan mata uang lokal dalam transaksi bilateral menjadi sebuah solusi yang semakin relevan.
Indonesia dan Malaysia sebenarnya telah memiliki kerangka kerja Local Currency Transaction (LCT). Namun, implementasinya masih belum optimal. Meskipun penggunaan mata uang lokal dalam perdagangan meningkat secara signifikan dalam beberapa tahun terakhir, sebagian besar transaksi masih bergantung pada mata uang global.
Rangkaian acara dibuka dengan paparan dari Bpk. Budi Satria, Executive Analyst Bank Indonesia Representative Office Singapore, menegaskan bahwa LCT merupakan solusi taktis untuk meningkatkan efisiensi transaksi lintas negara. Dengan dukungan infrastruktur pembayaran modern seperti QRIS dan DuitNow, penggunaan rupiah dan ringgit secara langsung mampu memperkuat konektivitas keuangan yang memberikan manfaat nyata bagi dunia usaha, termasuk UMKM.
Meski kerangka kerja LCT telah dirintis oleh kedua negara sejak tahun 2016, pemanfaatannya masih perlu ditingkatkan. Sebagai gambaran, pangsa penyelesaian perdagangan Malaysia-Indonesia dalam mata uang lokal baru mencapai sekitar 16,3% atau setara RM 10,6 miliar pada tahun 2025.
Dalam keynote speech-nya, Konsul Jenderal RI Johor Bahru, Sigit S. Widiyanto, menyoroti kedekatan hubungan Indonesia dan Malaysia, khususnya dengan Negara Bagian Johor di berbagai aspek, seperti geografis, sosial, budaya, sejarah dan ekonomi. Ia memberikan contoh 8 dari 11 terminal feri penumpang internasional yang menghubungkan kedua negara berada di Johor. Mobilitas warga kedua negara pun sangat intensif. Pada tahun 2025 tercatat 2,6 juta wisatawan Malaysia berkunjung ke Indonesia, sementara 3,8 juta wisatawan Indonesia mengunjungi Malaysia untuk keperluan pariwisata, kesehatan, hingga pendidikan. Kedua negara juga saling menjadi mitra dagang utama dan saat ini pemimpin kedua negara memiliki hubungan yang sangat erat dan dekat.
Oleh karena itu ia mendorong para pelaku usaha untuk meningkatkan penggunaan LCT dengan konsep "LAJU" yaitu :
Pendekatan "LAJU" menegaskan bahwa LCT bukan sekadar instrumen teknis, tetapi strategi untuk memperkuat kedaulatan ekonomi dan memperdalam integrasi kawasan.
Manfaat Nyata dan Tantangan Masa Depan
Dalam sesi diskusi yang menghadirkan pakar dari Bank Indonesia, Bank Negara Malaysia, dan Atase Perdagangan KBRI Kuala Lumpur, disampaikan berbagai manfaat praktis penggunaan LCT. Sistem ini secara efektif menghilangkan biaya double conversion (konversi ganda melalui USD) yang selama ini membebani pelaku usaha, menurunkan biaya logistik, meningkatkan efisiensi serta memberikan kepastian nilai tukar yang lebih stabil. Bagi masyarakat umum, LCT mempermudah pembayaran biaya sekolah anak di luar negeri hingga pembayaran tagihan rumah sakit tanpa harus khawatir dengan fluktuasi mata uang global. LCT juga menjadi instrumen penting untuk memperkuat ketahanan sistem keuangan regional.
Meski demikian, para narasumber mengakui adanya tantangan berupa dominasi psikologis dolar AS dan keterbatasan pemahaman masyarakat mengenai mekanisme kurs lokal. Sebagai tindak lanjut, forum ini menyepakati perlunya edukasi yang lebih masif serta transparansi penetapan kurs oleh bank-bank penunjuk (Appointed Cross Currency Dealers atau ACCD) . LCT digunakan secara luas oleh masyarakat kedua negara saat melakukan transaksi bilateral.
Kegiatan ini dihadiri oleh sekitar 90 pelaku usaha yang merepresentasikan berbagai sektor vital, mulai dari perbankan dan lembaga remitansi, hingga pengelola rumah sakit swasta, institusi pendidikan, serta para eksportir dan importir.
Sumber: Konsulat Jenderal Republik Indonesia di Johor Bahru