08/11/2026 | Press release | Distributed by Public on 08/12/2026 19:48
Padang, Indonesia - Direktur Jenderal Asia Pasifik dan Afrika (Aspasaf) Kementerian Luar Negeri RI, Dr. Santo Darmosumarto memberikan kuliah umum bertajuk "Diplomasi yang Bekerja: Memperjuangkan Kepentingan Nasional Indonesia di Samudra Hindia melalui IORA" di Universitas Andalas (Unand), Padang, Selasa (11/8/2026).
Di hadapan 4.000 mahasiswa baru Unand, Dirjen Santo menjelaskan bagaimana diplomasi bekerja dalam memperjuangkan kepentingan nasional melalui forum IORA agar dapat menghasilkan dampak konkret dan berkontribusi bagi kehidupan masyarakat sehari-hari.
Dijelaskan pula bahwa letak geografis Indonesia di antara dua samudera Hindia dan Pasifik sangat strategis dan merupakan potensi besar. Diperlukan diplomasi yang handal untuk mengubah tersebut menjadi peluang nyata. Melalui forum IORA, diplomasi Indonesia diprioritaskan untuk memperjuangkan kepentingan nasional yang berkaitan dengan Samudra Hindia, seperti menjaga ketahanan energi, stabilitas kawasan, dan mengamankan jalur perdagangan.
Lebih lanjut, dijelaskan bahwa hasil nyata dari diplomasi sering kali memang tidak berbentuk fisik seperti gedung atau jembatan. Namun, keberhasilan diplomasi dapat dirasakan jika instabilitas berhasil dicegah, rantai pasok barang tetap lancar, serta peluang investasi terbuka lebar, yang pada akhirnya seluruh kemudahan tersebut dinikmati langsung oleh masyarakat. Itulah yang dinamakan "diplomasi yang bekerja".
Dirjen Santo juga menjelaskan bahwa perumusan kebijakan luar negeri Indonesia senantiasa melibatkan seluruh pemangku kepentingan (all stakeholders), baik di tingkat pusat maupun daerah. Salah satu contoh konkretnya adalah peluncuran Satuan Tugas IORA yang dilakukan Kemlu RI pada 10 Agustus 2026.
Dari lingkup nasional, Dirjen Santo kemudian menarik arti penting IORA ke wilayah Sumatera Barat. Ia menekankan bahwa Samudra Hindia adalah isu yang tidak jauh dari Sumatera Barat, karena provinsi ini merupakan pintu gerbang utama Indonesia untuk ke kawasan Samudra Hindia. Berbagai bidang prioritas IORA seperti ekonomi biru, pengelolaan perikanan, pariwisata bahari, hingga mitigasi bencana memiliki keterkaitan langsung dengan potensi alam serta keunggulan riset yang dimiliki Universitas Andalas.
"IORA bukan sesuatu yang jauh dari Sumatera Barat. IORA sangat dekat dengan kehidupan masyarakat Sumatera Barat," tegas Dirjen Santo yang didampingi oleh Direktur Kerja Sama Intra dan Antar Kawasan Aspasaf, Febrian Irawati Mamesah. Ia juga menambahkan bahwa diplomasi yang berhasil adalah diplomasi yang mampu menghubungkan potensi daerah dengan peluang internasional.
Kuliah Umum ini mendapat sambutan hangat dari para peserta. Antusiasme tersebut terlihat jelas dari hidupnya sesi diskusi ketika para mahasiswa silih berganti mengajukan berbagai pertanyaan kritis seputar peran nyata IORA dan perkembangan geopolitik terkini di kawasan.
Untuk memotivasi para mahasiswa baru, Dirjen Santo turut mengangkat rekam jejak para tokoh bangsa dan diplomat asal ranah Minang, seperti Mohammad Hatta, Haji Agus Salim, dan diplomat maritim ulung, Prof. Dr. Hasjim Djalal. Menutup paparan, Dirjen Santo berharap kelak akan lahir menteri, duta besar, maupun tokoh internasional dari Universitas Andalas untuk membawa suara Indonesia di kancah global.
Sumber: Kementerian Luar Negeri RI