Ministry of Foreign Affairs of the Republic of Indonesia

11/24/2025 | Press release | Distributed by Public on 11/24/2025 22:21

Indonesia Gigih Lindungi Fauna dan Flora Langka di Forum PBB CITES CoP20

Berita
Indonesia Gigih Lindungi Fauna dan Flora Langka di Forum PBB CITES CoP20
Tanggal
24 November 2025
Indonesia Gigih Lindungi Fauna dan Flora Langka di Forum PBB CITES CoP20

Indonesia Gigih Lindungi Fauna dan Flora Langka di Forum PBB CITES CoP20, Samarkand Uzbekistan, 23 November - 5 Desember 2025

1 / 3
Duta Besar RI untuk Uzbekistan, Prof. Dr. Siti Ruhaini Dzuhayatin beserta Bapak Yudi Alamin, Minister Counselor KBRI Tashkent
arrow_back arrow_forward
Duta Besar RI untuk Uzbekistan, Prof. Dr. Siti Ruhaini Dzuhayatin beserta Bapak Yudi Alamin, Minister Counselor KBRI Tashkent

Pada tanggal 23 November 2025 - 5 Desember 2025 diselenggarakan Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora (CITES CoP20) dibawah United Nations Development Program (UNDP), Perserikatan Bangsa-Bangsa, bertempat di Expo Center, Silk Road Tourist Complex, Samarkand Uzbekistan.

Indonesia menjadi negara yang paling gigih mendukung inisiatif global, nasional dan bahkan sampai pada level komunitas dalam menjaga keragaman hayati atau bio-diversity. Bahkan Indonesia masuk dalam empat negara dengan 'mega diversity' bersama Brazil, China dan Columbia. Oleh sebab itu, banyak fauna dan flora Indonesia menjadi incaran pihak lain dengan berbagai kepentingan dan kebutuhan yang jika tidak dilakukan perlindungan akan mengakibatkan kepunahan. Di antara yang saat ini dikhawatirkan punah karena perburuan dan eksploitasi berlebihan seperti hiu Pelagis, penyu sisik, penyu belimbing dan yang lainnya. Demikian pula berbagai flora yang bernilai ekonomi tinggi dan ekspor seperti pohon damar, cendana maupun rotan. Oleh sebab itu, Indonesia mendukung sepenuhnya regulasi perdagangan internasional untuk menyelamatkan potensi kepunahan spesies dan memastikan keberlangsungan hidupnya serta memerangi perdagangan satwa liar ilegal.

Duta Besar RI untuk Uzbekistan, Siti Ruhaini Dzuhayatin mengatakan: ''pengiriman delegasi Indonesia secara lintas kementerian dan lembaga serta keikutsertaan para pengamat dan aktifis lingkungan menunjukkan kesungguhan Indonesia sebagai, satu dari empat negara dengan bio-diversity terbesar didunia, guna melindungi keaneka-ragaman flora dan fauna yang sangat luas serta kegigihan melestarikan dan menjaga dari kepunahan karena berbagai pemanfaatan dan perburuan yang berlebihan".

Karena sangat urgent dan strategisnya forum ini, Indionesia mengirimkan delegasi yang sangat lengkap dan komprehensif yang terdiri dari Kementerian Luar yang berperan mengawal diplomasi Internasional yang diwakili oleh Perwakilan Tetap Indonesia Perserikatan Bangsa Bangsa di Jenewa dan Kedutaan Besar RI di Tashkent-Uzbekistan, Kementerian Kehutanan, Kementerian kelautan serta Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) sebagai National Focal Point serta pemangku kepentingan lain yang terkait serta para pengamat dan aktifis lingkungan seperti Indonesia Agarwood Association, BirdLife Indonesia, Pengusaha Eksport-Import Burung Seluruh Indonesia dan Rekam Nusantara Foundation.

Koordinator National Focal Point Indonesia dan juga Direktor Jenderal Sumber Daya Alam dan Konservasi Ekologi, Setyawan Pudyatmoko menegaskan bahwa keanekaragaman hayati merupakan fondasi kesehatan planet dan bahwa CITES harus menjaga keseimbangan antara perlindungan spesies dan pemanfaatan berkelanjutan yang mendukung masyarakat. Sebagai negara mega-biodiversitas, Indonesia mendorong tata kelola berbasis sains dan pembiayaan inovatif-termasuk SDG Bond, Green Bond, Blue Bond, serta Coral Reef Bond-dan telah meluncurkan Indonesia Biodiversity Fund (IBioFund) untuk memperkuat konservasi, restorasi habitat, dan kapasitas masyarakat. Melalui regulasi yang lebih kuat, pendanaan yang memadai dan inovatif, serta kolaborasi multipihak, Indonesia berkomitmen menjadikan konservasi sebagai pendorong kesejahteraan dan ketahanan, serta mengajak seluruh mitra memperkuat upaya global bersama.

Kesungguhan Indonesia dalam Konferensi ini juga ditunjukkan dengan menyelenggarakan tiga side events pada tanggal 28 November, 29 November dan 5 Desember 2025, bekerja sama dengan CITES, Birdlife Internasional, Pemerintah Filipina, serta Mandai Nature.

Konferensi internasional ini merupakan pertama kali diselenggarakan di negara Asia Tengah yakni di kota bersejarah Samarkand, Uzbekistan. Utusan Khusus Presiden Uzbekistan bidang Lingkungan, Ekologi dan Perubahan Iklim, Mr. Aziz Abdukhakimov menegaskan pentingnya Uzbekistan dan negara Asia Tengah mengambil peran strategis dalam CITES CoP20 karena urgensi perlindungan flora dan fauna di kawasan ini yang tidak luput dari praktek-praktek eksploiatasi berlebihan serta keikutsertaan Asia Tengah melindungi pergerakan binatang dan burung bermigrasi lintas batas negara dalam jumlah besar.

Siaran Pers
pdf • 554.63KB
Download Siaran Pers

Survey Kepuasan Masyarakat

Feedback harus diisi
Simpan
Kembali Ke List
Ministry of Foreign Affairs of the Republic of Indonesia published this content on November 24, 2025, and is solely responsible for the information contained herein. Distributed via Public Technologies (PUBT), unedited and unaltered, on November 25, 2025 at 04:22 UTC. If you believe the information included in the content is inaccurate or outdated and requires editing or removal, please contact us at [email protected]